Tampilkan postingan dengan label Literature. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Literature. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 Februari 2012

The period of American Literary Works



Colonial Period (1607-1775). The main characterize of colonial period was religious. Generally, the content of fictional works contain about god that god determined people’s fate and people were bad and must be saved by Christ. The genres were diaries, personal narratives, sermons and written in plain style. The effects make good authority of the Bible and church. The works are Bradford’s of Plymouth, A Narrative of the Captivity by Rowlandson, Sinners in the Hands of an Angry God by Edward. In addition, first American magazines appeared such as American Magazine Andrew Bradford and Benjamin Franklin’s General Magazine and Historical Chronicle.
Revolutionary Age and Early National Period (1775-1865). The styles of revolutionary age were political pamphlets, highly ornate, travel and persuasive writing. This period grew patriotism, instills pride, and national mission and also build the American character. The authors persuaded the readers to support revolutionary war in many works. The works are Poor Richard’s Almanac by Franklin, The Autobiography by Franklin and Writings of Jefferson, Paine, Henry and so on.
Romanticism (1800 – 1865). The works were appeared character sketches, slave narratives, poetry, and short story style. Feeling, intuiting, imaging played in these works. The context was expansion of magazines, newspapers and book publishing. The works were Rip Van Winkle by Washington Irving, Thanatopsis by William Cullen Bryant, We Wear Mask by Dunbar, poems of Emily Dickinson, Poem of Walt Whitman, Prose Romance The Edgar Allan Poe, Herman Melville’s essay, “Hawthome and his Mosses and so on. The authors were Ralph Waldo Emerson, Henry David Thoreau, Edgar Allan Poe, Herman Mellville, Washington Irving, Nathaniel Hawthome, Harriet Breecher Stowe, John Greenleaf Whittier, Henry Wadsworth Longfellow and Walt Withman.
Realistic Period – Naturalistic Period (1865 – 1914). Realistic Period had novels and shorts stories, objective narrator, not tell readers how to interpret story and make voice in dialogue from around the country. The effects of realistic period were social realism and aesthetic realism. The works were writings of Twain, Bierce, Crane, The Narrative of the Life of Frederick Douglass, The Adventures of Huckleberry Finn and Regional work like The Awakening Ethan Frome and My Antonia. The authors such as Mark Twain, William Dean Howells, Henry James, Bret Harte, Sarah Orne Jewett, Stephen Crane, Ezra Pound and so on.      
The Modernism (1914 – 1950). The famous works in this period were novels, and poetries. The characterizes that writer seek a unique style as highly experimental and use interior monologue and stream of consciousness. The effects of modern period people admired America as land of Eden, optimism and importance of the individual. Writers tried to show the ideas of Darwin that survival of the fittest and Karl Marx that how money and class structure control a nation). Generally, writers told about technological in 20th Century and Raise of the youth culture. The works such as Fitzgerald’s The Great Gatsby, Poetry of Jeffers Williams, Short stories and novels of Steinbeck, Hemingway, Thurber, Welty, and Faulkner, Hansberry’s A Raisin in the Sun and Wright’s Native Son and also the death of salesman by Miller.
Post Modernism (1950-1970). In general, the styles of writing were used such as mix fantasy and nonfiction, humorless, narratives, metafiction, tell present tense and so on. The historical context were Post – World War II prosperity and media culture interprets values. The works were The naked and The Dead and The Executioner’s songs by Mailer, One Flew Over the Cuckoo’s Nest by Kesey, Feminist and social issued poets like Plath, Rich, Sexton, Levertoy, Baraka, Cleaver, Morrison, Walker and Giovanni, Lawrence and Lee’s inherit the wind, stories and novels of Vonnegut and Catcher in the Rye by Salinger.
Contemporary (1970  - Present). The characterizes of Contemporary were Narratives that both fiction and nonfiction, Anti-heroes, Autobiographical essays, Humorous irony, and Emotion-provoking. The works were Cold Mountain by Frazier, Poetry of Dove, Cineros, Soto, Alexie, writings of Angelou, Walker’s the colour Purple and Haley’s Roots.

Kamis, 15 Desember 2011

Formalisme dalam Sastra

Formalisme
          Secara etimologi, formalisme berarti wujud atau benda sedangkan dalam ilmu sastra, teori formalisme  merupakan teori yang mengkaji   karya sastra dengan mengutamakan  bentuk karya sastranya daripada isiya  dan tidak berhubungan dengan unsur sejarah, biografi, konteks budaya dan sebagaiya. Bentuk karya sastra yang dianalisa seperti, kata-kata formal dan tehnik pegucapan, meliputi ritma, rima, aquistik, aliterasi, asonansi.
            Tokoh – tokoh teori  formalisme berasal dari Rusia dan  menamakan dirinya Opayaz. Tokoh teori formalisme sempat berpengaruh pada tahun sekitar tahun 1914-1930an.  Tokoh formalis yang terkenal antara lain adalah Victor Shklovsky, Boris Eichenbaum, Roman Jakobson, Leo Jakubinsk dan Yury Tynyanov .
            Konsep yang mendasari studi kaum atau tokoh  formalisme ialah tidak berfokus  pada “bagaimana sastra dipelajari” melainkan “apa yang sebenarnya menjadi persoalan pokok dari studi sastra itu sendiri”. Konsep formalisme sebagaimana yang katakan oleh Jokobson “objek ilmu sastra bukanlah kesusastraan melainkan kesastraannya―yaitu yang menjadikan sebuah karya bisa disebut sebagai karya sastra.”  Boris Eichenbaum juga mengatakan bahwa karakteristik dari kaum formalis hanya berusaha mengembangkan ilmu sastra secara tersendiri, yang studinya lebih dikhususkan pada bahan - bahan kesastraan.;mereka hanya menyarankan untuk mengenali fakta – fakta teoritis yang tersimpan dalam seni sastra. Itulah perkataan dari beberapa para tokoh formalis.
            Konsep Formalisme juga menganggap penting berbagai ragam bahasa. Para tokoh membedakan antara ragam bahasa puitik dengan bahasa praktis/prosaik dan ragam bahasa puitik dengan bahasa emotif/emosional. Bagi tokoh formalis, pembedaan tersebut menjadi sangat penting karena masing-masing ragam (pemakaian) bahasa itu memiliki dan menyediakan konteks/tujuan, fungsi, nilai, dan hukum-hukumnya sendiri.
Konsep formalisme yang lain juga menjelaskan bahwa bentuk merupakan sesuatu yang komplet, konkrit atau nyata, dinamis, dan berdiri sendiri. Konsep ini mempercayai bahwa bentuk berhubugan dengan makna yang terkandung pada karya sastra. Jika bentuk diubah maka isi yang terkandung dalam karya sastra akan berubah. Bisa dikatakan bahwa aspek bentuk sangat berpengaruh pada makna atau isi karya sastra.  
Konsep Formalisme selanjutnya ialah gagasan mengenai teknik berhubungan dengan bentuk. Maksud dari konsep ini ialah bahwa persepsi bentuk merupakan hasil dari pemikiran dan pengamplikasian teknik – teknik artistik  khusus yang memaksa pembaca untuk memperhatikan kehadiran bentuk  tersebut. Bentuk dengan menggunakan teknik artistik akan memunculkan kesan pada pembaca. Selain untuk kebutuhan artistik, keberadaan teknik pun dibutuhkan untuk membuat objek yang ingin dideskripsikan.
Selanjutnya, konsep Formalisme menganggap bahwa plot merupakan posisi sebagai struktur. Teori menganai fiksi dan plot perlu diketahui sebagai gagasan yang cukup penting yang dikemukakan oleh para tokoh formalis. Konstruksi plot menjadi subjek dasar yang menyimpan kekhasan pada seni naratif. Salah satu tokoh formalis, Victor Shklovsky, mengatakan bahwa cerita hanya untuk memformulasikan plot, sementara plot itu sendiri menempati posisinya sebagai struktur.

Sumber :

            

Sosiologi Sastra ?

(Sosiologi Sastra)
            Sebelum dibahas mengenai sosiologi sastra, ada baiknya mengetahui yang dimaksud sosiologi itu sendiri. Sosiologi merupakan pelajaran ilmiah bersifat objektif terhadap manusia dalam masyarakat, pelajaran lembaga – lemabaga dan proses – proses sosial.  Dengan ilmu sosiologi dapat dijawab mengenai bagaimana suatu masyarakat,  cara kerjanya masyarakat dan hal apa yang membuat masyarakat tersebut bertahan hidup. Sedangkan, sastra itu sendiri merupakan suatu karya yang didalamnya menggambarkan pencerimanan suatu masyarakat tertentu. Seorang pengarang membuat karya sastra didalamnya pengarang berusaha mengungkapkan masalah – masalah kehidupan yang seolah – olah atau bahkan pengarang sendiri ikut berada di dalamnya atau mengetahui keadaan cerita.
          Oleh karena itu, sosiologi sastra merupakan studi yang mengakaji bahwa sejauh mana karya sastra memiliki hubungan dengan kenyataan atau sebagai pencerminan dari kenyataan pada masyarakat. Kenyataan yang dimaksud memiliki arti yang cukup luas yaitu baik dapat berupa segala sesuatu yang diacu karya sastra maupun segala sesuatu yang berada di luar karya sastra. Sosiologi sastra juga dapat menjelaskan mengenai bagaimana karya sastra tersebut mengenai suatu budaya kaum masyarakat tertentu.
           Pada paragraf sebelumnya dijelaskan mengenai sosiologi sastra itu sendiri. Pada penjelasan selanjutnya akan dibahas mengenai sejarah sosiologi sastra secara singkat. Sosiologi sastra merupakan ilmu yang memakai teori dan metode ilmiah yang berdiri sendiri. Sosiologi sastra mulai dianggap pada abad ke-18.  Awal mula sosiologi sastra berasal dari permasalahan mengenai masyarakat dan sastra itu sendiri. Karya sastra berkembang dalam masyarakat dapat dikatakan pula bahwa karya sastra tidak akan ada tanpa masyarakat. Sosiologi sastra mencoba untuk mengakaji mengenai hubungan yang ada antara karya sastra dengan masyarakat.
        Wilayah sosiologi sastra dapat dibagi dalam beberapa bagian yaitu, sosiologi sastra terhadap pengarang, sosiologi sastra terhadap karya, dan sosiologi sastra terhadap pembaca. Pemikiran ini dituangkan oleh Rene Wellek  dan Austin Waren. Mereka merupakan tokoh sosiologi sastra yang memiliki pendapat bahwa  sosiologi sastra mmiliki  3 klasifikasi. Pertama, sosiologi sastra mengenai pengarang yang menyelidiki  tentang status sosial, ideologi politik, dan sebagainya yang berhubungan dengan diri pengarang. Kedua, sosiologi sastra mengenai karya yaitu menyelediki tentang apa yang tersirat dan tujuan atau amanat yang hendak disampaikan dalam  suatu karya sastra yang sedang ditelaah.  Ketiga, sosiologi sastra terhadap pembaca menyelidiki pembaca yang membaca karya sastra tersebut dan pengaruh sosialnya terhadap masyarakat.
        Tokoh sosiologi sastra  berikutnya ialah Ian Watt yang mengatakan bahwa sosiologi sastra itu mencakup tiga hal yaitu konteks sosial pengarang, sastra sebagai cermin masyarakat dan fungsi sosiologi sastra. Konteks sosial menjelaskan tentang posisi sosial masyarakat dan kaitannya dengan masyarakat yang membaca karya sastra tersebut dan factor – factor sosial yang bisa mempengaruhi diri pengarang. Sastra sebagai cermin masyarakat yaitu menjelaskan sampai sejauh mana sastra dianggap sebagai pencerminan keadaan masyarakat. Fungsi sosial sastra menjelaskan sejauh mana nilai sastra berkaitan dengan nilai sosial dan sejauh mana sastra dapat berfungsi sebagai alat penghibur serta sebagai pendidikan kepada masyarakat bagi yang membacanya.
          Tokoh sosiologi sastra lainnya ialah Umar Junus. Beliau lahir di Silukang, Sumatera Barat tanggal 2 Mei 1934. Beliau mengungkapkan bahwa dalam sosiologi sastra yang dibahas ialah sastra sebagai dokumen sosial budaya. Hal ini juga menyangkut penelitian mengenai penghasilan dan pemasaran karya sastra. Beliau menjelaskan bahwa karya sastra itu mencerminkan masyarakatnya dan kekuatan kekuatan pada zamannya karya sastra tersebut.
     Tokoh sosiologi sastra selanjutnya ialah Subagio Sastrowardoyo. Beliau lahir di Madiun tanggal 1 Februari 1924. Beliau wafat pada Tahun 1995. Beliau ialah seorang penyair, penulis cerita pendek dan esai serta kritikus sastra Indonesia. Melaui esai – esainya, beliau banyak menjelaskan latar persoalan Indonesia sekarang seakarang secara jujur dan tajam. Seorang pujangga Indonesia yang terkemuka yang dikenal dari berbagai puisi – puisi yang menggunakan kata – kata sederhana dan beberapa diantaranya sangat populer. Beliau lahir di Surakarta pada tanggal 1940. Beliau adalah salah seorang kritikus yang membahas karya dari sisi soiologisnya. Tokoh sosiologi ini bernama Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono.
    Tokoh selanjutnya yang menyumbangkan pikirannya dalam sosiologi sastra ialah Robert Escarpit. Beliau merupakan seorang novelis dan kritikus Prancis yang dikenal dengan karyanya mengenai sosilogi sastra. Dalam bukunya yang berjudul La Revolution du livre dan Le litteraire et le sosial mencoba menjelaskan hasil analisisnya mengenai kondisi produksi buku dan literature massa. Pemikiran beliau bahkan sampai meluas menjadi sastra komunikasi.
     Lucian Goldman lahir pada tanggal 20 Juli 1013 di Botosani, Rumania. Beliau adalah seorang filsuf Perancis dan berasal dari Rumania. Beliau adalah seorang berpengaruh Marxis teoritkus. Selanjutnya, tokoh yang menyumbangkan pikirannya dalam sosiologi sastra dan menganut Marxisme ialah Gyory Lukacs. Beliau seorang Hungaria filsuf Marxis dan kritikus sastra. Ia menyumbangkan pikiran dalam ide – ide terhadap kesadaran kelas untuk Marxis dan teori serta kritik sastra berpengaruh dalam berpikir tentang realisme. Tokoh selanjutnya yang berpaham teori Marxis dan menyumbangkan pikirannya dalam sosiologi sastra ialah Valentinovich Georgi Plekhanov berasal dari Rusia yang lahir pada tanggal 26 November 1957. Tokoh sosiologi lainnya yang selain disebutkan sebelumnya yang menganut paham Marxisme dan menyumbangkan pikirannya dalam sosiologi sastra antara lain, Franz Erdmann Mehring dan Henry Raymond Williams.
    Tokoh sosiologi sastra lainnya ialah Edmund Wilson yang lahir tanggal 8 Mei 1895 dan wafat pada tanggal 12 Juni 1972. Beliau merupakan seorang penulis Amerika dan kritikus sastra. Beliau dianggap sebagai salah satu kritikus sastra Amerika yang terkemuka. Beliau juga semasa hidupnya banyak menjelaskan mengenai permasalahan sosial dan kritik – kritiknya dalam karyanya.
            Tokoh sosiologi sastra yang lainnya ialah Andrei Alexandrovich Zhdanov, Jean Paul Sartre, Ludwig Wiesengrund Theodor Adrno, Adolphe Hippolyte Taine, Bendix Schonflies Walter Benjamin, Max Horkheimer dan Herbert Marcuse.

Sumber :
http://skripsi-konsultasi.blogspot.com/2009/07/pendekatan-sosiologi-sastra-sebagai.html